|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Edupedia » Mengelola Laboratorium Kimia di Sekolah

Mengelola Laboratorium Kimia di Sekolah

Rabu, 6 Februari 2013 11:57:52  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 634
Mengelola Laboratorium Kimia di Sekolah

Laboratorium merupakan suatu tempat dimana percobaan dan penyelidikan dilakukan. Tempat ini dapat berupa ruangan yang terbuka, misalnya kebun, atau ruangan yang tertutup. Dalam pengertian terbatas, laboratorium ialah suatu ruangan tertutup dimana percobaan atau penyelidikan dilakukan. Laboratorium merupakan salah satu sarana dalam kegiatan pembelajaran sehingga memerlukan penanganan dan pengelolaan yang baik.
Suatu laboratorium IPA Kimia SMA dimana perlengkapan laboratorium termasuk meja, kursi, lemari dan rak yang ada di dalamnya sekurang-kurangnya berukuran 2,5 m2 dengan luas lantai 100 m2. Suatu lab. kimia yang baik sekurang-kurangnya harus diperlengkapi dengan ruang-ruang penunjang antara lain ruang persiapan, ruang penyimpanan (gudang), ruang timbang, dan lemari asap.

Meja demonstrasi: harus diletakkan sedemikian rupa sehingga semua siswa dapat melihat apa yang didemonstrasikan oleh guru. Meja ini biasanya diletakkan di atas panggung, tinggi 20 cm. Ukuran meja demonstrasi adala panjang 3 m, lebar 0.8 m, dan tinggi 0.9 m. Pada sebelah tepi depan meja dipasang bak cuci dengan ukuran 54 x 35 x 20 cm yang dilengkapi dengan kran air. Pada meja ini juga harus dilengkapi dengan stop kontak untuk sumber listrik.
Meja Kerja untuk Murid: Untuk standar 40 orang siswa yang praktikum dibutuhkan 10 buah meja kerja dengan pengaturan sesuai dengan gambar. Meja kerja sebaiknya dilengkapi dengan laci pada bagian bawahnya, dan stop kontak pada tepi samping meja bagian depan.
Lemari: Lemari untuk penyimpanan alat-alat dan zat kimia, sebaiknya yang berpintu kaca, dengan jarak rak antara satu dengan yang lain adalah 30 cm. Lemari ini dapat dipasang pada sepanjang dinding yang tidak berjendela.
Bak cuci: Bak cuci dengan ukuran sama dengan meja kerja siswa diletakkan pada sisi kiri dan kanan. Dalam ruang persiapan juga dibutuhkan bak cuci. Tugas guru sebagai pengelola lab. antara lain adalah menjaga disiplin lab., mengatur dan memelihara alat dan bahan, pengadaan dan pembelian alat dan bahan, dan menjaga keselamatan lab. Untuk menjalankan tugas ini seyogianya pada setiap lab.terdapat tenaga laboran yang membantu guru dalam mempersiapkan alat dan bahan untuk kegiatan praktikum.

Dalam mengelola lab. harus ada tata tertib yang wajib diikuti oleh siswa dalam laboratorium. Tata tertib ini penting untuk menjaga kelancaran dan keselamatan bekerja dalam lab. Tata tertib disusun oleh dewan guru yang berisi antara lain:
Larangan: Misalnya larangan menggunakan zat-zat yang beracun dan bebahaya tanpa ada petunjuk dari guru. Larangan menggunakan alat yang mungkin dapat menimbulkan bahaya atau kerusakan tanpa mengetahui betul cara menggunakannya.
Suruhan: Misalnya menjaga kebersihan, mMemperlakuan sesuatu jika ada kebakaran atau kecelakaan yang disebabkan oleh zat-zat kimia atau sebab-sebab lain
Petunjuk: Misalnya petunjuk untuk melakukan pkerjaan tertentu. Petunjuk bagaimana cara mencegah bahaya atau kerusaan yang mungkin dapat timbul dari percoban yang dilakukan.
Administrasi Alat dan Bahan
Tujuan dari mengadministrsika alat dan bahan adalah agar dengan mudah dapat mengetahui: (a) Jenis alat atau bahan yang ada; (b) Jumlah masing-masing alat dan bahan; (c) Jumlah pembelian atau tambahan alat dan bahan; (d) Jumlah alat yang pecah atau hilang
Untuk keperluan administrasi diperlukan beberpa buku catatan, diantaranya: (a) Buku stok; (b) Kumpulan daftar pembelian dan penerimaan; (c) Buku harian; (d) Kartu barang; (e) Catatan pinjaman alat
Pemeliharaan Alat dan Bahan
Alat-alat kimia yang sebagian besar terdiri dari alat-alat dari gelas, penyimpannnya didasarkan pada jenis alat, seperti: (a) tabung reaksi; (b) kasa; (c) gelas kimia; (d) kaki tiga; (e) corong; (f) statif; (g) buret dan pipet; (h) gelas ukur. Alat- alat yang sebagian besar terdiri dari logam, hendaknya disimpan jauh dari zat kimia, karena uap zat-zat kimia ini dapat merusak alat
Penyimpanan Bahan Kimia
Menyimpan bahan kimia dapat dibagi atas: (a) Bahan-bahan yang sering dipakai; (b) Bahan dimana siswa diijinkan untuk mengambil sendiri; (c) Bahan yang jarang dipakai; (d) Bahan-bahan yang berbahaya (beracun, mudah terbakar, mudah meletus). Zat-zat yang sering dipakai dan yang dapat diambil langsung oleh siswa dapat disimpan dalam lab. pada rak yang terbuka,namun jumlah zat-zat tesbut supaya dibatasi. Zat-zat yang beracun hendaknya disimpan dalam lemari terkunci dan terpisah dari zat lain. Pemakaian zat ini harus seizin guru penaggung jawab lab.

Ada beberapa zat yang memerlukan penyimpanan khusus antara lain: (a) Fosfor putih (kuning) disimpan dalam air; (b) Logam natrium atau kalium isimpan dalam minyak tanah; (c) Zat-zat yang mudah terbakar misalnya ester, benzena, alkohol, petroleum eter, karbon
disulfida disimpan pada tempat yang dingin, tertutup rapat dan jauh dari sumber api; (d) Kalium hidroksida dan natrium hidroksida ditutup dengan karet atau gabus, jangan dengan tutup kaca.
Laboratorium kimia harus dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi sekolah, namun yang perlu diperhatikan adalah susunan lab. yang memungkinkan siswa dapat melakukan kegiatan di lab. dengan baik. Guru sebagai pengelola lab. Seharusnya mempersiapkan tata tertib lab, dan melaksanakan administasi lab. dengan baik.
Laboratorium merupakan tempat siswa melakukan keterampilan-keterampilan proses sains. Kegiatan ini adalah keterampilan-keterampilan yang dipelajari siswa pada saat mereka melakukan inquiri ilmiah. Pada saat mereka terlibat aktif dalam penyelidikan ilmiah, mereka menggunakan berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal. Keterampilan-keterampilan proses sains dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip sains.
Salah satu keterampilan sains yang harus dikuasai siswa adalah pengamatan. Pengamatan adalah penggunaan indera-indera seseorang. Seorang mengamati dengan penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan, dan pembauan. Beberapa perilaku yang dikerjakan siswa pada saat pengamatan adalah: (a) penggunaan indera-indera tidak hanya pengl ihatan; (b) pengorganisasian obyek-obyek menurut satu sifat tertentu; (c) pengidentifikasian banyak sifat; (d) pengidentifikasian perubahan-perubahan dalam suatuobyek; (e) melakukan pengamatan kuantitatif, contohnya: “5 kilogram” bukan “massa” (f) melakukan pengamatan kualitatif, contohnya: “baunya seperti susu asam” bukan “berbau”.
Pengamatan yang dilakukan hanya dengan menggunakan indera tanpa mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kualitatif, sedangkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang mengacu kepada satuan pengukuran baku tertentu disebut pengamatan kuantitatif. Besaran yang diperoleh dari mencacah termasuk pengamatan kuantitaif.
Pengamatan kualitatif didefenisikan sebagai pengamatan yang dilakukan dengan beberapa atau seluruh indera, yaitu dengan mendeskripsikan apa yang dilihat, apa yang dirasa, apa yang dibau, apa yang didengar, apa yang dicicipi dari obyek yang diamati. Pengamatan yang hanya menggunakan satu indera tidak dapat memberikan deskripsi yang lengkap tentang obyek yang diamati.
Terdapat tujuh komponen untuk melakukan pengamatan ilmiah yang baik, yaitu:
1. Rencana (plan). Buatlah rencana untuk penuntun pengamatan supaya tidak terlewati hal-hal yang penting atau supaya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu.
2. Indera (Senses). Pergunakanlah semua indera yang tepat kalau perlu memakai alat untuk membantu indera dalam mengumpulkan informasi yang jelas.
3. Pertanyaan (Question). Tetaplah mepunyai rasa ingin tahu selama mengamati, waspadalah terhadap perbedaan-perbedaan dan pertanyakanlah segala sesuatu untuk mendapatkan informasi baru dan pengamatan baru.
4. Pengukuran (Measurement). Buatlah pengukuran-pengukuran variabel yang penting untuk melengkapi pengamatan kualitatif.
5. Persamaan dan perbedaan (Similarities and Differences). Identifikasikanlah persamaan dan perbedaan antara obyek pengamatan dengan obyek-obyek lain yang dapat dibandingkan.
6. Perubahan (Changes). Amati perubahan-perubahan alami yang terjadi pada obyek atau sistem yang sedang diteliti. Bila perlu buatlah perubahan-perubahan dan amati perubahan yang terjadi sebagai akibat.
7. Komunikasi (Communication). Laporkan hasil pengamatan anda dengan jelas mempergunakan uraian, diagram-diagram, gambar-gambar dan metode-metode lain yang tepat. (*) sumber: kemdikbud (diolah)

Baca "Edupedia" Lainnya

Komentar Anda