|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Edupedia » Membangun Kebersamaan di Sekolah

Membangun Kebersamaan di Sekolah

Rabu, 27 Maret 2013 11:08:57  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 930
Membangun Kebersamaan di Sekolah

Setiap orang memahami bahwa keteladanan merupakan salah satu karakteristik penting bagi keberhasilan seorang pemimpin. Teori kepemimpinan transformasional, sebuah temuan baru dalam perkembangan teori kepemimpinan, meletakkan keteladanan pada peringkat pertama di antara sejumlah karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Guru-guru dan staf sekolah berharap agar kepala sekolah menyuarakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut. Untuk berbicara sesuatu kepala sekolah harus mengetahui apa yang sedang ia bicarakan. Untuk memperjuangkan keyakinannya, kepala sekolah harus mengetahui apa yang Anda perjuangkan. “To walk the talk, you have to have a talk to walk” (Kouzes dan Posner, 2007:47).

Untuk melakukan apa yang dikatakan, kepala sekolah harus mengetahui apa yang ingin ia katakan. Untuk mendapatkan dan mempertahankan kredibilitas, pertama-tama kepala sekolah harus mampu mengartikulasikan dengan jelas keyakinan yang ia pegang teguh. Inilah sebabnya maka memperjelas nilai-nilai merupakan komitmen pertama seorang kepala sekolah. Memperjelas nilai merupakan awal mula dari semua hal yang terkait dengan kepemimpinan.

Untuk menjadi pemimpin yang kredibel, kepala sekolah harus benar-benar memahami keyakinan—nilai, prinsip, standar, etika, dan idealisme—yang dipegang teguh yang menjadi pemandu tindakannya. Kepala sekolah harus memilih dengan jujur prinsip-prinsip yang akan digunakan sebagai landasan dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Kepala sekolah harus mampu mengekspresikan dirinya sendiri.

Kepala sekolah  harus mengkomunikasikan keyakinannya dengan cara-cara yang otentik dan unik sehingga dapat merepresantasikan siapa dirinya. Akan tetapi kepala sekolah tidak boleh hanya berbicara tentang dirinya sendiri ketika mengemukakan nilai-nilai yang menjadi pemandu pengambilan keputusan dan tindakannya. Ketika seorang kepala sekolah mengungkapkan komitmennya tentang kualitas dan inovasi pendidikan, atau nilai-nilai utama lainnya, seharusnya kepala sekolah tidak mengucapkan, “Saya yakin akan hal ini.”

Dia membangun komitmen semua warga sekolah dengan mengatakan, “Kita semua yakin akan hal itu.” Oleh karena itu, kepala sekolah bukan hanya harus memperjelas nilai pribadinya akan tetapi juga harus memastikan adanya serangkaian nilai-nilai yang disepakati di antara semua warga sekolah yang dipimpinnya.

Meskipun merupakan hal yang esensial bagi setiap kepala sekolah, kejelasan nilai-nilai pribadi saja tidak cukup. Kepala sekolah tidak hanya berbicara dengan dirinya sendiri, dia juga harus berbicara dengan warga sekolah yang dipimpinnya. Harus ada kesepakatan atas nilai bersama yang dipegang teguh oleh setiap orang yang ada di sekolah. Nilai-nilai bersama akan menghasilkan perbedaan yang positif dan signifikan dalam hal sikap dan kinerja warga sekolah, dan pemahaman bersama terhadap nilai-nilai itu akan tumbuh melalui proses, bukan melalui slogan-slogan atau pengumuman. Kebersamaan akan terbangun melalui dialog.

Kouzes dan Posner (2007) menyarankan tiga cara untuk mengembangkan kompetensi yang diperlukan dalam memperjelas nilai tersebut: (1) tulis sebuah harga untuk diri anda, (2) tulis kredo Anda, dan (3) lakukan dialog kredo. Berikut diuraikan langkah-langkah yang dapat ditempuh ketiga cara ini.

 

Berapakah harga diri Anda?

Proses memperjelas nilai-nilai dapat diawali dengan melakukan refleksiterhadap sosok diri ideal yang Anda bayangkan—Anda ingin dilitah seperti apa oleh orang lain. Ungkapan-ungkapan seperti apa yang Anda inginkan untuk diucapkan oleh orang lain tentang diri Anda? Bagaimana Anda ingin dikenang oleh orang lain? Uraian tentang diri seperti apa yang paling Anda banggakan? Ungkapan dan sifat-sifat seperti itu memang terkesan muluk-muluk dan ideal.

Akan tetapi, semakin kuat kejelasan, keyakinan, dan cita-cita terhadap standar keunggulan pribadi, semakin besar peluang kita untuk berbuat sesuai dengan cita-cita itu.

 

Tuliskan kredo anda

Bayangkan bahwa Dinas Pendidikan memberi kesempatan kepada Anda untuk cuti selama enam bulan dan melakukan perjalanan ke luar negeri dan semua biaya hidup Anda ditanggung oleh Dinas. Selama di luar negeri Anda tidak diperbolehkan untuk berkomunikasi dengan siapapun di sekolah Anda melalui cara apapun. Akan tetapi sebelum berangkat, Anda menginginkan agar orang-orang di sekolah Anda memahami bahwa prinsip-prinsip yang Anda yakini harus menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan bertindak selama Anda tidak di tempat. Mereka harus mengetahui nilai-nilai dan keyakinan yang Anda anggap harus mengarahkan jalannya sekolah selama Anda di luar negeri. Setelah semuanya dianggap cukup, Anda berharap akan mampu menyesuaikan diri dan meneruskannya ketika Anda kembali. Untuk itu semua Anda tidak perlu menulis laporan yang panjang lebar.

Tulislah ”Memo Kredo” satu halaman saja dan biasanya hanya diperlukan waktu

sekitar lima sampai sepuluh menit untuk menulisnya. Cara ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemahaman diri secara mendalam, akan tetapi hanya dimaksudkan untuk melakukan langkah awal untuk mengartikulasikan prinsip-prinsip yang membimbing Anda. Untuk memperdalam proses klarifikasi, lakukan identifikasi terhadap nilai-nilai yang tertulis dalam memo Anda tadi dan susunlah sesuai dengan skala prioritasnya atau tingkat kepentingannya. Memaksa diri mengekspresikan preferensi semacam itu akan memampukan Anda untuk melihat kekuatan dari masing-masing nilai

 

Lakukan dialog kredo

Kumpulkan semua guru dan staf sekolah yang Anda pimpin. Mintalah mereka untuk menuliskan memo kredo dengan cara yang Anda lakukan seperti di atas. Mintalah masing-masing orang untuk membahas dalam kelompok kecil tentang apa yang telah mereka tulis. Mintalah mereka untuk menjelaskan apa yang mereka tulis dan mengapa mereka memilih nilai-nilai itu. Anda dapat memberi contoh kepada mereka Ingatkan mereka bahwa tujuan dari kegiatan adalah untuk memperoleh kejelasan. Anda hanya menginginkan mereka memahami nilai masing-masing;

pada tahap ini tidak harus dicapai kesepakatan. Sarankan mereka saling meminta penjelasan apabila belum memahami sesuatu. Jika setiap orang telah mengemukakan nilai-nilai kunci masing-masing, mintalah kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah mereka diskusikan. Mintalah mereka untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang serupa dari masing-masing orang. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan nilai bersama. Akan tetapi, hal yang terpenting adalah bahwa Anda telah memulai untuk membangun konsensus terhadap sejumlah nilai-nilai umum yang digali dari kelompok dan tidak dengan cara dipaksakan dari atas.

Terdapat dua hal esensial yang diperlukan dalam pemberian keteladanan, satu terfokus pada diri kepala sekolah itu sendiri dan yang lain terfokus pada warga sekolah yang dipimpinnya. Yang pertama dilakukan melalui mempribadikan nilai bersama dan yang berikutnya membelajarkan orang lain untuk memodelkan nilai-nilai itu. Untuk mempraktikkan kedua hal itu, kepala sekolah menjadi model bagi apa yang diperjuangkan oleh semua warga sekolah lainnya dan juga menciptakan budaya dimana setiap orang berkomitmen untuk menyelaraskan dirinya dengan nilai-nilai bersama.

 

Jika seorang kepala sekolah menginginkan hasil yang lebih baik dalam mempribadikan nilai-nilai bersama, ia harus memastikan bahwa ia mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Dia lebih banyak berbicara dengan perbuatan dari pada dengan kata-kata.

Kepala sekolah adalah duta bagi nilai-nilai bersama semua warga sekolah. Misi kepala sekolah adalah untuk merepresentasikan nilai-nilai dan standar sekolah kepada siapapun dan dimanapun. Kouzes dan Posner (2007) menyarankan beberapa cara sebagai berikut untuk secara pribadi memberikan teladan tentang nilai bersama di lingkungan sekolah.

 

(1) Gunakan waktu dan perhatian secara bijaksana. Gunakan sumber daya tak terbarukan ini hanya untuk nilai-nilai yang paling penting.

(2) Hati-hati dalam memilih kosa kata. Gunakan kata-kata dan frasa yang mampu memberikan ekspresi terbaik terhadap budaya yang Anda inginkan.

(3) Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna. Ajukan pertanyaan-pertanyaan

yang secara sengaja dimaksudkan untuk menstimulasi orang untuk berfikir lebih bermakna tentang nilai-nilai bersma.

(4) Mintalah balikan. Tanyakan kepada orang lain tentang dampak dari perilaku Anda terhadap kinerja mereka.(*) sumber; kemdikbud (diolah)

Baca "Edupedia" Lainnya

Komentar Anda